26 August 2025

MAHASISWA MPI IAI AT-TAQWA MAGANG DI BAZNAS BONDOWOSO

BONDOWOSO – Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) IAI At-Taqwa Bondowoso kembali melepas mahasiswa untuk mengikuti program magang. Kali ini, mahasiswa menjalani praktik lapangan di Kantor Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bondowoso.
Acara serah terima mahasiswa magang dilaksanakan Kamis (21/8). Prosesi dilakukan langsung oleh Kaprodi MPI, Ust. Dr. Abdul Wasik, M.HI, dan diterima oleh Kepala Kantor BAZNAS Bondowoso. Dalam kesempatan itu, Abdul Wasik menekankan pentingnya magang sebagai ajang penguatan kompetensi mahasiswa. “Melalui magang, mahasiswa bisa mempraktikkan ilmu manajemen sekaligus belajar dari pengalaman lapangan,” ujarnya.


Kepala Kantor BAZNAS Bondowoso menyambut baik kerjasama tersebut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa magang bisa membantu berbagai program, terutama yang berkaitan dengan administrasi zakat dan pemberdayaan mustahik. “Kami berharap mahasiswa bisa belajar sekaligus ikut berkontribusi dalam program sosial yang dijalankan BAZNAS,” katanya.
Magang sesi 2 ini berlangsung sejak 21 Agustus hingga 19 September 2025. Selama sebulan penuh, mahasiswa akan ditempatkan di berbagai divisi, mulai administrasi hingga pendampingan program pemberdayaan ekonomi umat.
Magang di Kantor BAZNAS Bondowoso memiliki fungsi yang strategis, baik bagi mahasiswa, lembaga pendidikan, maupun BAZNAS sebagai mitra kerja. Setidaknya terdapat lima fungsi penting yang dapat dicermati: Pertama, Fungsi Edukatif. Magang berfungsi sebagai media pembelajaran praktis bagi mahasiswa. Teori yang mereka pelajari di kampus, khususnya terkait manajemen zakat, keuangan syariah, dan pemberdayaan masyarakat, dapat diuji dan diperkaya melalui praktik langsung di BAZNAS. Dengan demikian, magang menjadi jembatan antara ilmu yang bersifat konseptual dengan realitas lapangan.
Kedua, Fungsi Profesionalitas. Melalui keterlibatan dalam aktivitas kelembagaan, mahasiswa dibentuk untuk memiliki keterampilan profesional, seperti administrasi zakat, pendampingan mustahik, serta manajemen program pemberdayaan. Hal ini menjadi bekal penting untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja dan berdaya saing tinggi.
Ketiga, Fungsi Sosial. Magang juga memberi pengalaman sosial yang berharga. Mahasiswa tidak hanya berinteraksi dengan aparat BAZNAS, tetapi juga dengan masyarakat mustahik. Dari sini lahir empati, kepedulian sosial, serta kesadaran bahwa zakat bukan hanya instrumen ibadah individual, melainkan juga instrumen pembangunan masyarakat.
Keempat, Fungsi Kolaboratif. Kehadiran mahasiswa magang memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dengan lembaga zakat. BAZNAS mendapatkan dukungan tenaga muda yang kreatif, sementara kampus memperoleh ruang praktik bagi mahasiswa. Kolaborasi ini menjadi model kemitraan yang saling menguntungkan untuk mendukung visi pembangunan daerah berbasis zakat.
Kelima, Fungsi Transformatif. Lebih jauh, magang di BAZNAS Bondowoso mendorong mahasiswa untuk menjadi agen perubahan. Dengan menyaksikan langsung bagaimana zakat dikelola dan didistribusikan, mahasiswa dituntut untuk mengembangkan ide-ide inovatif dalam pengelolaan dana umat. Fungsi ini sejalan dengan semangat good community governance dalam tata kelola zakat produktif yang menekankan aspek akuntabilitas, partisipasi, dan transparansi.
Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mendapat pengalaman praktis, tetapi juga tumbuh kepekaan sosial serta kemampuan manajerial untuk mengelola zakat sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.